Fakta Hidup Setelah Usia 40 Tahun

in Steem SEAyesterday

1724497959754.jpg


Enam kebenaran hidup yang harus dipahami setelah usia 40 tahun. Saat mencapai usia empat puluh, separuh jalan menuju seratus tahun telah berlalu. Keenam kebenaran ini, semakin cepat dipahami, hidup akan semakin tenang dan nyaman.

Pertama, kesehatan lebih penting daripada apapun. Usia 30 berjuang demi pencapaian karier, usia 40 berjuang demi hasil cek kesehatan yang baik.

Dulu begadang, minum-minum kopi, merokok tanpa ragu, sekarang baru mengerti saat naik le lantai tiga saja sudah terengah-engah.

Bisa makan enak, tidur nyenyak, dan kuat berjalan, adalah aset terbesar dalam hidup. Untuk sisa hidup ke depan, gantilah suplemen kesehatan dengan sayuran, dan gantilah acara minum kopi dengan jalan santai.



1000045960.jpg

Jika kamu menjaga tubuhmu dengan baik, mak tubuhmu baru bisa menjaga keluargamu.

Kedua, teman yang semakin sedikit, bukanlah hal yang buruk. Usia 20 takut tidak punya teman, usia 30 takut teman meminjam uang, usia 40 baru akhirnya menngerti, lingkaran pergaulan sedikit lebih kecil, hati akan terasa sedikit lebih dekat.

Mereka yang perlahan menjauh, pada dasarnya memang bukan orang yang sejalan dengan kita. Dua atau tiga sahabat yang tersisa, jauh lebih berharga daripada puluhan ribu teman yang hanya sekedar saling like di media sosial.

Tidak perlu memaksakan diri membaur dalam keramaian, luangkan waktumu untuk orang yang membuatmu merasa nyaman, meski duduk bersama tanpa berbicara.

Ke tiga, anak-anak pada akhirnya akan mandiri, dan orang tua pada akhirnya akan menua.

Saat melihat anak-anak mengemas barang bawaanmu untuk pergi jauh, tiba-tiba kita mengerti penantian dan harapan orang tua kita dimasa lalu.

Peran di usia 40 tahun adalah melepas kepergian, sekaligus berbalik badan. Melepas anak untuk menjelajahi dunia mereka sendiri, lalu berbalik untuk memeluk orang tua yang semakin hari semakin bertingkah seperti anak kecil.

Jangan lagi mengeluh anak tidak penurut, mereka memiliki lautan dan impian mereka sendiri. Jangan selalu menunggu nanti saja, masa depan orang tua kita mungkin tidak sempat menunggu.

Ke empat, tempat kerja bukan lagi medan perang utama. Dulu berjuang mati-matian demi promosi dan kenaikan gaji, kini menyadari bahwa senyaman apapun kursi di kantor, kita tidak bisa mendudukinya selamanya.

Pencerahan diusia 40 tahun adalah mengetahui bahwa ada hal-hal yang cukup dilakukan dengan sebaik mungkin, dan ada kesalahan atau beban yang tidak perlu dipaksa untuk ditanggung sendiri.

Ubah ambisi menjadi ketenangan hati, belilah sebuket bunga diperjalanan pulang kerja, akhir pekan temani keluarga makan bersama. Kamu akan menyadari manisnya hari-hari tidak pernah berasal dari dalam mesin absensi.

Ke lima, ma'afkanlah kesederhanaan dirimu sendiri. Dulu ingin menjadi pahlawan, belakangan baru mengerti sebagian orang sepanjang hidupnya adalah manusia biasa.

Terimalah kenyataan jika tidak menghasilkan banyak uang, terimalah jika tidak menjadi bos, terima jika anak tidak lulus di sekolah ternama. Kamu bukan pecundang, kamu hanya sedang menjalani hidup dengan caramu sendiri, tidak sempuran, tapi tetap cukup baik dan masih melewati batas yang layak. Katakan pada dirimu sendiri, bisa melangkah sampai di titik ini, kamu sudah sangat luar biasa.

Ke enam, hidup dimasa kini adalah yang paling nyata. Dendam dimasa lalu jangan lagi dipikirkan berulang-ulang. Kecemasan dimasa depan, jangan lagi ditakuti tanpa henti.

Langit diusia 40 tahun, saat cerah ada kehangatannya. Jika sedang minum kopi, nikmatilah kopinya, jika sedang melihat awan, nikmatilah awannya, jika mencintai seseorang, cintailah dengan sungguh-sungguh.

Diparuh kedua kehidupan, gantilah kalimat tunggu nanti dengan menjadi sekarang juga, kamu akan menjalani hidup dengan jauh lebih membumi dan bermakna.

Salam kompak selalu.

By @midiagam