Jalan-Jalan Ke Kebun Pisang

in WhereIN6 hours ago

Jam di dinding baru nunjuk angka 7 lewat lima belas. Aku dorong pintu belakang pelan-pelan, bawa cangkir kopi yang masih ngepul. Langkahku udah hafal arahnya: ke kebun pisang di belakang rumah.

Begitu masuk, dunia langsung beda. Udara dingin Medan nyapa muka, bersih, nggak ada asap knalpot. Daun-daun pisang yang tadi malam kena hujan masih berat sama embun. Begitu kena sinar matahari pertama, embunnya berubah jadi butiran lampu kecil-kecil di setiap ujung daun.

“Selamat pagi,” gumamku, entah ke siapa. Mungkin ke si pohon kepok yang batangnya paling gemuk, atau ke tandan barangan yang udah mulai montok.

Suasananya rame tapi damai. Daun pisang di atasku kresek-kresek ngobrol sama angin. Di pematang sana, dua burung kutilang rebutan jangkrik, lalu terbang bareng pas lihat aku nongol. Dari kejauhan, sayup-sayup kedengeran ayam Pak Zainal kokok bersahutan.

Aku taruh kopi di bangku kayu yang udah aku buat dari sisa batang pisang tua. Duduk, hirup dalam-dalam. Wanginya campuran tanah basah, batang pisang yang baru ditebas minggu lalu, sama kopiku sendiri. Di depanku, jantung pisang merah keunguan ngegantung anggun kayak lampu taman.

Nggak ada notifikasi, nggak ada yang buru-buru. Cuma aku, kopi, dan kebun hijau ini. Di momen kayak gini, aku ngerasa semua capek minggu ini luntur, kebawa angin yang lewat sela-sela daun.

Ini surgaku tiap pagi. Kebun pisangku yang hijau.

Salam kompak selalu.

By @midiagam

WhereIn Android