Tahun Yang Diam
Tahun itu diam tanpa kata, hanya bisa memilih untuk pergi. Senyuman yang polos itu sudah tidak lagi menarik, kamu takut akan hasil akhir hingga berusaha menyakiti, mengatakan bahwa aku menghalangi masa depanmu yang cerah.
Kamu bersikeras, agar tak ingin aku menunggu. Aku hanya bisa terdiam membiarkanmu pergi. Sekarang kembali dalam keadaan terluka, katakan bagaimana aku harus menerima semua ini.
Lalu kamu datang lagi, bawa luka yang sama
yang dulu kamu goreskan sendiri di dadaku.
Kaki pincang, tangan kosong, mata basah,
meminta rumah yang dulu kamu bakar pintunya.
Aku masih di sini, bukan karena bodoh, tapi karena pernah tulus, tapi rumah ini sudah kubangun ulang, dindingnya dari do'a, atapnya dari ikhlas, kuncinya sudah kuserahkan pada-Nya.

Kalau kamu mau berteduh, silakan, duduk di beranda, aku sediakan teh hangat dan diam yang tidak menghakimi. Tapi jangan minta kunci lagi, karena yang dulu pergi... harus belajar pulang sendiri.
Aku mema'afkan, iya. Tapi menerima kembali, itu urusan hati yang sekarang sudah pintar memilih siapa yang boleh menetap.
Pergimu dulu mengajariku pergi dari diriku sendiri. Kembalimu sekarang mengajariku pulang pada diriku sendiri.
Jadi terima kasih.
Untuk lukanya, untuk pelajarannya, untuk pintunya yang tertutup. Tanpa itu, aku nggak akan kenal versi diriku yang sekarang
yang bisa senyum, walau tanpa kamu.
Salam kompak selalu.
By @midiagam
