Oyong Panjang Dan Terong Ungu Yang Kasih Kabar Baik
Tadi sore aku iseng muter kebun belakang.
Nggak ada niat muluk-muluk, cuma mau lihat tanaman oyong panjang yang beberapa minggu lalu masih kecil-kecil. Eh, ternyata dia diam-diam sudah berubah.
Buahnya mulai nongol. Panjang, hijau muda, gantung pelan di sela-sela daun.
Dan bunganya? Banyak sekali. Kuning cerah, buka tutup seperti menyapa pagi dan sore.

Aku diam sejenak di situ.
Padahal kemarin-kemarin aku siram, aku cek, tapi nggak ngerasa ada yang spesial.
Ternyata dia cuma butuh waktu buat nunjukin hasilnya.

Oyong itu mengajarkan aku satu hal,
Banyak hal tumbuh tanpa kita sadar. Asal nggak berhenti menyiram, asal nggak buru-buru nyerah. Kita seringnya seperti itu juga. Kerja, belajar, jaga kebiasaan kecil, tapi karena nggak langsung kelihatan hasilnya, kita ngerasa gagal. Padahal mungkin besok pagi, atau minggu depan, bunga dan buahnya baru muncul.

Aku jadi senyum sendiri pas megang salah satu buahnya. Kecil, tapi rasanya berat. Berat karena ada sabar, ada waktu, ada harapan di dalamnya. Besok kalau sudah agak besar, sepertinya bisa dipetik buat sayur bening. Bayangkan saja, makan sayur dari tangan sendiri. Rasanya pasti beda.

Nah, tadi aku cerita soal oyong panjang yang diam-diam mulai berbuah. Ternyata dia nggak sendirian. Di sebelahnya, terung ungu panjang juga lagi pamer hasil.

Buahnya banyak, panjang-panjang, warnanya ungu tua mengkilat kena matahari sore. Segar sekali. Seperti nggak sabar buat dipetik. Aku jongkok di depan mereka, melihat satu per satu. Anehnya, padahal cuma sayur, tapi rasanya seperti melihat anak sendiri yang akhirnya tumbuh sehat.

Oyong dan terung ini beda karakter.
Oyong pendiam, gantung pelan, bunganya kuning cerah. Terung lebih gagah, berdiri tegak, warnanya mencolok. Tapi keduanya mengajarkan hal yang sama, sabar itu dibayar lunas.

Beberapa minggu lalu mereka cuma batang kecil, daunnya juga belum lebat.
Aku siram, aku bersihin rumput, kadang aku ngomong sendiri “tumbuh ya”.
Nggak ada yang jawab. Tapi mereka jawab dengan buah.
Aku jadi berpikir, hidup juga gitu.
Kita sering ngerasa nggak ada perubahan. Padahal di bawah permukaan, akar lagi kuat-kuatnya. Dan pas waktunya, hasilnya muncul barengan. Nggak cuma satu, tapi banyak. Besok rencananya mau petik beberapa. Oyong buat sayur bening, terung buat balado atau dibakar. Makan sayur dari kebun sendiri itu rasanya jujur. Nggak ada yang ditutup-tutupin.

Buat teman Steem Sea yang lagi nanam sesuatu di hidupnya, tahan dulu sebentar.
Kadang panen itu datangnya nggak satu-satu. Dia datang bareng-bareng, pas kamu hampir menyerah.
Salam kompak selalu.
By @midiagam
