15 Juni 2026 (Langkah Sakral Sepupu Terkasih: Mengantar Bahagia, Menitip Do'a)
Hola Sobat Steemians! Semoga hari kalian menyenangkan, selalu sehat, dan penuh bahagia, ya
Pagi belum sepenuhnya benderang ketika kesibukan di rumah saudari sepupu saya dimulai. Sebagai bagian dari keluarga, hari ini bukan sekadar tentang menghadiri undangan, melainkan tentang mengantarkan salah satu babak terpenting dalam hidupnya. Tugas pertama saya dan om dimulai ba'da subuh untuk mengantarnya ke tempat rias pengantin yang jaraknya cukup jauh, sekitar 10 kilometer dari rumah. Di sepanjang jalan, ada riak cemas sekaligus bahagia yang sunyi, tanda sebuah perjalanan besar akan segera dimulai.

Potret Riasan Tempat Untuk Kedua Mempelai
Sepulang dari tempat make-up, atmosfer gotong royong khas kampung halaman langsung menyambut. Di halaman rumah, saya bergabung bersama Om dan beberapa tetangga untuk menyembelih seekor kambing yang akan menjadi hidangan kenduri. Aroma kebersamaan begitu kental, canda gurau disela kerja keras, sebuah tradisi yang selalu berhasil menghangatkan suasana sebelum acara inti dimulai.
Waktu bergerak cepat. Begitu matahari meninggi, saya dan om kembali memacu kendaraan untuk menjemput adik sepupu saya yang kini telah menjelma menjadi seorang ratu sehari. Dari sana, rombongan langsung bertolak menuju KUA Kuta Makmur, Aceh Utara.

Potret KUA Kuta Makmur Aceh Utara
Sesampainya di KUA, suasana berubah menjadi lebih formal namun tenang. Kedua mempelai segera melakukan registrasi di bagian umum, didampingi oleh para saksi dan wali nikah. Di dalam ruangan yang bersahaja itu, prosesi akad nikah berlangsung dengan sangat khidmat.
Momen paling menggetarkan hati adalah saat Om maju sebagai wali nikah. Beliau menggantikan posisi almarhum ayah sepupu saya yang telah berpulang beberapa tahun lalu. Kehadiran sosok Om membawa ketegaran, namun kerinduan pada almarhum ayah tetap menyeruak di sudut ruangan. Ketika kalimat ijab kabul diucapkan dan kata "Sah" bergema, air mata haru dan senyum bahagia tumpah seketika.
Saya yang hari itu merangkap tugas sebagai saksi nikah, menyaksikan setiap detik sakral tersebut dengan dada yang bergemuruh. Ada rasa syukur yang tak terhingga melihatnya kini telah sah menjadi seorang istri. Sebagai pengabadi momen, kami pun menutup sesi di KUA dengan foto bersama, sebuah potret keluarga yang akan terus dikenang.
Sebelum kembali ke rumah utama, kami menyempatkan diri sejenak untuk meluruskan kaki dan menikmati secangkir kopi bersama para saksi lainnya. Mengopi di Aceh selalu punya cara sendiri untuk merayakan ketenangan setelah ketegangan acara sakral.
Namun, jeda itu tidak lama. Kami segera kembali ke rumah untuk bersiap menyambut kedatangan mempelai pria beserta keluarga besarnya untuk acara makan bersama. Tak lama setelah kami merapikan rumah, rombongan yang ditunggu-tunggu pun tiba dengan hangat.
Sayangnya, karena tuntutan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, saya harus pamit lebih awal untuk kembali ke Lhokseumawe sebelum seluruh rangkaian acara selesai. Langkah kaki saya meninggalkan Kuta Makmur diiringi doa yang tulus dari dalam hati:
Barakallahu lakuma wa baraka 'alaikuma wa jama'a bainakuma fii khair. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan berkah, serta menganugerahkan keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah untuk saudari sepupuku dan suaminya. Selamat menempuh hidup baru.

